Biang Gosip

Biang Gosip
“Wah.. Mobil doi ganti lagi, nich!!” Ungkap Yolane keganjenan saat melihat penampilan Daniel dengan JAGUAR merahnya yang diparkir di belakang sekolah.

“Gila!! Yang HARDTOP aja umurnya belum sempat seminggu. Sekarang ganti lagi,” decak kagum Serly setengah gatal-gatal.

“Eh, malah kemarin gue sempet dianter ke AMBASADOR pake MERCEDES MANNHEIM.” Tambah Elize.

“Sabtu kemarin aja, gue bareng doi ke Bukit Sentul pake FERRARI 512S Spesial. Gila, nggak?” Ratih tak mau kalah.

“Lah, gue lain lagi, nih. Malam minggu kemarin malah, doi ngajak gue ke Ancol naik HONDA CIVIC abu-abunya,” Shinta turut serta.

“Am ague LAMBORGHINI!”
“MAZDA.”
“BUGATTI lho.”
“Kalau gue BENZ silver.”

Survey membuktikan! Bahwa 80% dara kelas III-satu sudah pernah jalan bareng Daniel dengan mobil yang berbeda-beda. Dealer kali, ya?
Nanda cemberut berat. Bibirnya yang memang berskala jumbo itu terpaksa mesti dimusiumkan, layaknya oplet tua.

“Interupsi!! Wooooy….!”
Jeng, jeng! Semua mata beralih pandang. Menuju arah sumber suara. Gosip jeda sejenak. Kantin sunyi pekat. Tatapan mereka beradu.

Yolane hanya cengengesan saat bola mata sekantin menyorot penuh kepadanya. Gigi berkawatnya menjawab tatapan mereka.

“Perhatian, perhatian!! Manusia di sebelah kita, lagi depresi,” tegas Yolane sejurus kemudian seperti suara rekaman bioskop, “para penggosip yang telah kehabisan bahan, dipersilahkan menanyakan sebabnya.”

Nanda melotot gemas. Ditambahnya ukuran awal bibir itu beberapa senti. Terlebih saat telunjuk Yolane tepat menuding wajahnya.

“Apa-apaan, sich!” Nanda menepis tangan ramping Yolane ke samping, “Elo-elo tuh, pada norak tau nggak!!” Bentaknya kemudian. Lantas bergegas menuju kasir dan berlalu cepat kembali ke kelas.

***

Kasak-kusuk kelas III-satu begitu jelas di mata. Pak Rendra, guru kesenian yang sedang menerangkan materi abstraknya terpaksa harus dipending sementara, lantaran riuhnya.

“Ehmm..! Para siswa yang budiman. Dalam hal goresan, Affandi saja tidak mengajarkan seni menggosip. Zaini pun tidak pernah mencampur warnanya dengan isu. Begitu juga Sadali dan Basuki. Mereka belum pernah melukis diri mereka sendiri dalam sebentang kanvas tentang ihwal yang belum jelas juntrungannya.” Sindir Pak Rendra.

Para murid menyadarinya. Dipandang lekat ekspresi gurunya dengan senyum blo'on. Suasana mendadak kaku.

“Baiklah! Kita buat aliran baru. Bapak berikan waktu dua jam untuk mencurahkan gosip kalian dalam selembar, gunakan kain kanvas ini sebagai medianya.” Pak Rendra bergegas keluar kelas. Anak-anak dibuatnya tercengang polos.

Dua jam berlalu. Apa yang terjadi? Ruangan kelas III-satu terkesan seperti pameran otomotif. Para siswa berkreasi dengan sebentuk mobil yang pernah mereka naiki bersama Daniel. Kecuali siswa laki-laki dan..

“Nanda. Ini lukisan apa?” Tegur Pak Rendra menunjukkan selembar kanvas dengan campuran warna yang berbaur dengan bentuk bebas.
Anak-anak mencoba menterjemahkan dengan mengerahkan seluruh imajinasi polosnya. Tapi, mustahil!

“Benang kusut, Pak!” Jawab Yolane asal.
“Potret dirinya kali, Pak!” Ratih lebih asal.
“Mungkin lukisan pabrik cat.” Imbuh Eliza.

Para siswa tertawa mengejek. Hampir saja kawat logam yang menempel di gigi Yolane terlepas, saking girangnya.

Nanda mengankat bahu lalu mendenguskan nafasnya, sekeras banteng Spanyol di hadapan sang matador.

“Nanda?” Pak Rendra menagih jawaban Nanda.
“Ini lukisan gossip, Pak,” jawab Nanda menoleh kearah Yolane CS. “Lukisan ini menggambarkan mereka yang senang menggosip, Pak.” Nanda percaya diri.

Para siswi beradu pandang. Kalau saja pandangan itu terbuat dari kaca, pasti sudah pecah berkeping-keping. Terutama Yolane, Ratih dan Eliza. Mereka tersendak boomerang yang dilemparkannya sendiri.

Pak Rendra tersenyum puas. Ternyata ada juga salah satu muridnya yang sepaham.

***

“Elo kok jadi naïf banget sih, Nda?” Serobot Yolane, menyengajakan berjalan bereng dengan Nanda, sepulang sekolah.
“Iya. Dangdut banget, juga!” Cetus Ratih.
“Klasik banget!”

Nanda menangkap semua celoteh temannya. Bibir supernya menjawab dengan cibirnya over. Tak menggubris semua tudingan bernuansa aliran musik mereka.
“Heh…!” Yolane menepuk pundak kiri Nanda. “Elo sirik ya, sama kita-kita orang. Soalnya, elu belum pernah diajak naik mobil Daniel yang bejibun dan nyentrik itu, ya, kan?”

“Ho’oh, dasar! Ratih menepuk pundak kanannya dengan keras, “Makanya gaul, dong!”

Nanda menghentikan angkutan umum, seakan akan memberikan jawaban atas apa yang ada di ditunggu oleh Yolane dan kawan-kawan. Lantas naik dengan santainya. Lagi-lagi tidak memperdulikan kicauan Yolane dan kawan-kawan.
“Eh.. mau kemana tuh anak..?? Kok dia naik angkot, sih?” Tanya Eliza kepada kawan-kawanya.

“Gak tau.. mau kemana?? Ya udah kita ikutin aja mau kemana tuh anak!” Ajak Yolan.
"Lo.. pada mau tau jawaban gue, kan??" Jawab nanda meyakinkan mereka. "Ya udah ikutin gue!"

Mereka menyusul sigap mengikuti langkah Nanda. Seketika angkutan umum yang mereka naiki pun sudah seperti sekolah. Sesak dengan seragam Putih-abuabu.

“Aduhh, heyy..! Kita mau kemana sich!” Yolane menyempatkan duduk di sisi Nanda.
“Hooh, jawab, dong!” hardik Ratih saat tas megahnya menampar muka seorang penumpang tua, “Eh, maaf, pak eksiden dikit. He..he..he..”
“Gagu, ya.!” Sahut Eliza.
“Tau, nich!” Serly menambah lagi. Sikutnya mengerang ketika menyenggol jidat penumpang lain berkumis lebat.

Masih dengan kesan cueknya. Nanda mengetuk kaca… Tokk..tokk..tokk! Mobil berhenti total, Ciiittt..!! Bergegas Nanda turun tanpa membentuk ekspresi apapun. Menyisakan Tanya jawab di benak teman-temannya. Mereka menyusul.

“Lho, kok. Elo ngajak kita-kita ke bengkel, sih?” Tanya Eliza sambil menepis-nepis asap knalpot dari mukanya.
“Tau, mau apa coba kesini.”
“Aduhhh.. bau karbit nih…! Uhukk..uhukk..”
“Iiiihhh… banyak oli lagi.”

Nanda masih beku dengan ocehan sobatnya yang heterogen. Hingga langkahnya dihentikan tepat di depan sosok yang tidak asing bagi mereka.
Seonggok jasad lusuh, kumal, dekil, kucal. Menutup wajah handsomenya yang selama ini mereka gosipkan heboh.

Bola mata mereka berkumpul pada satu titik fokus. Membuat mereka setengah tidak percaya. Masa, sih? Begitu kata-kata batin itu terlontar di hati mereka.
“Hai, Daniel! Sorry gue ngeganggu kesibukan elo sebentar,” tegur Nanda, “anak-anak di kelas heboh saat ngeliat elo alpa hari ini. Mereka pikir elo sakit.”

“Eh, Nanda..” dihentikannya sejenak pekerjaannya seraya menepuk-nepuk kedua tangannya yang penuh dengan oli hitam. Lantas berdiri di depan JAGUAR merah yang sempat ia bawa kemarin ke sekolah, “Bujug! Kenapa geng Yolane CS lo bawa kemari semua?!” pekiknya kemudian menutupi malunya pada Yolane CS.

Ternyata semua tentang Daniel selama ini hanya bohong belaka. Mereka menahan diri di hadapan Nanda. Tak ada, seorang Daniel anak pengusaha otomotif. Daniel yang sering gonta-ganti mobil, dengan berbagai model dan tipe yang kompleks. Seorang Daniel yang necis, perlente dan menjadi kebanggan siswi III-satu karena kebiasaanya, menggonta-ganti mobil. Kini, hanyalah seorang pekerja bengkel yang lusuh, dekil dan kucal.

“Elo.. gawe di sini, Niel?” Yolane mengernyit.
“Eh… Ho..oh, Yol! Daniel tersipu kecut.
“Gue pikir… Elo. Elo itu, Borju.” Ungkap Eliza pelan, ketika mengucap kata Borju.
“Trus kenapa tadi elo gak masuk?” Nanda mengubah bahasan, “nggak sakit, kan?”
“Iya, kenapa lo kagak masuk?” Yolane mengikuti.
Nanda menyikut Yolane lantaran mengikuti kata-katanya. Beg! Yola meringis kecil.

“Gini, Nda. Gue tadi nggak bisa masuk, sebab yang punya JAGUAR ini nanti sore mau ngambil. Kemarin, pulang dari sekolah, gue nabrak gerobak bakso. Jadi, gini deh jadinya.” Jawab Daniel memelas.
Yolane dan kawan-kawan tertawa cengingisan mendengar penjelasan dari Daniel.

“Ha..ha..ha.. itu sih derita lo, Niel!” Tegas Yolane mengejek
“Lagian mobil bagus-bagus lo tabrakin ke gerobak bakso, gak sekalian aja lo jadiin tetelan bakso!”
“Iya maafin gue.. selama ini udah ngebohongin kalian!” tegas Daniel
Yolane dan kawan-kawan hanya mengangguk seadanya. Daniel tertunduk malu. Yolane dan kawan-kawan tertipu dengan penampilan Daniel selama ini. Ternyata, ini yang sebenarnya terjadi. Nanda tersenyum.

“Oiya, Niel. Tadi di sekolah mereka ngegosipin pengalaman mereka, sama elo. Cuma, ada satu pengalaman yang belum pernah mereka coba.” Papar Nanda rileks.
“Elo jangan ngomong yang nggak-nggak, deh! Maksud lo apa tuh ngomong gitu?!" Yolane menyiapkan bogemnya.

“Niel. Kata mereka tu, mereka belum pernah naik Metromini pribadi elo.” Jelas Nanda bergegas meninggalkan teman-temannya dengan langkah seribu.

0 comments :

Posting Komentar

 

Langganan via Email